SLANK KONSER dan SILATURAHMI ke PP. AMANATUL UMMAH

Jawa Pos – Band rock Slank akhirnya merampungkan rangkaian
tur pesantren di empat kota bertajuk Silaturahmi: Merajut
Kebangsaan. Diadakan bersama budayawan Zastrouw Al Ngatawi dan
Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, lokasi terakhir pelaksanaan yakni di
pondok pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur pada
(17/9). Sebelumnya, band yang digawangi Kaka (vokal), Ridho (gitar),
Ivanka (bass), dan Bimbim (drum) ini telah singgah di kota Ciamis (13/9), Berbeda dengan tur musik pada umumnya, semua rangkaian acara
digelar di pondok pesantren pada tiap kota. Tur ini diisi dengan berbagai
acara, mulai dari ziarah makam, bakti sosial berupa bazar minyak goreng
murah, penyerahan bantuan ke pesantren, dialog budaya, dan
kebangsaan bersama tokoh dan santri. Serta acara puncaknya yaitu
pertunjukan musik dari Slank.
“Senang bisa lagi tur pesantren. Kami ingin berbagi pesan kebangsaan,
berbagi ilmu. Menghibur sekaligus silaturrahmi,” kata Bimbim Slank.
Konser yang diselenggarakan ini berbeda dengan konsep penampilan
Slank biasanya. Salah satu keistimewaannya yaitu di tengah-tengah
pertunjukan musik disisipkan tausiah oleh Zastrouw Al Ngatawi. Ribuan
santri dan penggemar fanatik Slank yang kerap disapa Slankers berbaur
dalam alunan musik rock sekaligus menyimak tausiah Zastrouw secara
khidmat.
Mengambil inspirasi dari lagu Slank yang dibawakan di panggung pada
tiap konser, Zastrouw menafsirkan dan membedah lirik-lirik lagu tersebut
menjadi pesan moral yang sarat makna. Mulai dari ajakan untuk berdoa
sebelum berkegiatan, pesan anti-korupsi, bersedekah, hingga menebar
virus perdamaian di muka bumi.
Zastrouw memaparkan bahwa pola seperti ini sudah terjadi di era Wali
Songo dan ulama-ulama Nusantara. Pada saat itu yang terkenal adalah
wayang, gamelan, dan tembang macapat.
“Dalam konteks kekinian, wayang, gamelan, dan macapat mengalami
metamorfosis menjadi musik rock. Ini kita jadikan metode untuk
menyampaikan pemikiran serta ajaran tentang keislaman. Dakwah itu
intinya adalah untuk memanggil. Dan cara dakwah harus disesuaikan
dengan kadar kemampuan pihak yang dipanggil,” jelas Zastrouw.┬áPerihal tausiah lewat musik, Pengurus Yayasan Amanatul Ummah, Gus
Bara menyatakan bahwa segala nilai sejatinya dapat ditransfer melalui
medium apapun, termasuk dengan musik. Dan ketika ditanya
pendapatnya mengenai Slankers yang berbondong-bondong datang ke
pesantren untuk menikmati pertunjukan musik, dia mengambil sisi
positifnya.
“Harapan kami dengan datangnya Slankers ke pondok pesantren agar
dapat lebih mengenal nilai positif pesantren dan memahami nilai filosofis
lagu-lagu Slank, sehingga menjadi titik balik perubahan ke arah yang
lebih baik,” ucap Gus Bara.
Parman, Slankers asal Jember berusia tiga puluh tahun adalah salah satu
dari ribuan penonton yang hadir di lokasi konser. Untuk tiba ke pesantren
Amanatul Ummah, dia menumpang truk secara estafet. Belum lagi
dirinya harus menempuh sisa perjalanan dari jalan raya menuju ke lokasi
pesantren yang cukup terpencil dengan berjalan kaki sekitar 6 kilometer.
Usai acara Parman mengaku memperoleh pengalaman yang berharga.
Pasalnya selain disuguhi hiburan musik, dia juga dapat mendengarkan
tausiah di atas panggung.
“(Tausiah) ini kan untuk diri kita sendiri juga. Saya sebelumnya belum
pernah ke pondok pesantren. Ustadz (Zastrouw Al Ngatawi) tadi
mengingatkan kita bahwa kerja biar dapatnya sedikit yang penting halal.
Lalu kita juga diingatkan untuk beramal,” tutup Parman.
Brebes (14/9), dan Batang (15/9). [